Tampilkan postingan dengan label Pengembangan Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengembangan Diri. Tampilkan semua postingan

19 Maret 2012

Apakah anda Seorang Muslim ????

Apakah anda seorang muslim?. Jika anda yakin bahwa anda seorang muslim, maka anda harus mengklik persentasi dibawah ini.

Dan selanjutnya ikuti semua perintah yang ada di sampaikan persentasi tersebut.
Bila anda tidak yakin untuk melaksanakan perintah tersebut, maka jangan sekali-sekali menjadi seorang muslim. Karena anda tidak akan dapat menanggung akibatnya.

Bagaimana Membuat Persentasi Yang Menarik Audiens


Bagi seseorang yang ingin menyampaikan sesuatu, misalanya mengajar, menjual barang, atau sekedar membarikan informasi, maka dia harus melakukan apa yang di sebut persentasi. Mendengar kata persentasi, maka kita akan mengingat sebuah laptop, file persentasi dan proyektor. Mempersiapkan laptop dan proyektor di zaman sekarang bukanlah perkara susah. Akan tetapi mempersiapkan sebuah file persentasi bukanlah perkara mudah, walapun sebenarnya tidaklah juga terlalu sulit.

Sulit tidaknya membuat file persentasi yang dimaksud di sini bukan pada cara menggunakan softwere persentasi seperti MS Powerpoint atau lainnya. Yang dimaksud disini adalah bagaimana mendesain sebuah file persentasi sehingga isi dan penyampaiannya tidak akan membuat audiens menjadi bosan, ngantuk atau melakukan hal lain pada saat kita memyampaikan persentasi seperti ber SMS atau online dg smartphone.

Bagi anda yang selalu berhubungan dengan persentasi dan ingin meningkatkan kualitas diri menjadi lebih baik, maka seorang warga negara Indonesia bernama Muhammad Noer telah menghadirkan sebuah buku yang dipersembahkan gratis untuk bangsa Indonesia dan juga tentunya untuk anda. Buku tersebut berjudul "Persentasi Memukau, Bagaimana menciptakan Persentasi Yang Luar Biasa"

Muhammad Noer bekerja sebagai Human Resources Business Partner untuk divisi
Customer Development Unilever Global, berkantor di Singapura. Salah satu tanggung
jawabnya adalah mengelola talent management lintas negara untuk memastikan
organisasi yang maju, efektif dan dinamis. Ini dilakukan bekerjasama dengan para
human resources manager dan para business leader lainnya dari negara-negara
kawasan Asia, Afrika, Australia dan sebagian Eropa.
Dia sering mempersiapkan dan memberikan presentasi dalam tugasnya sebagai
praktisi human resources lintas negara. Dia juga diundang sebagai pembicara oleh
berbagai organisasi dan perusahaan untuk berbagi ilmu terkait bidang sumber daya
manusia, knowledge management dan learning organisation.

Bukunya dapat di unduh di SINI

05 Juli 2011

Apple University dan Corporate Learning Center

Steve Jobs, pendiri dan sekaligus CEO Apple, mungkin adalah figur bisnis yang paling bertanggungjawab atas hadirnya karnaval inovasi tanpa henti dari pabrikan Apple. Produk-produk indah nan legendaris macam iPad dan Mac terus muncul, dan kemudian melambungkan Apple sebagai perusahaan paling berharga di dunia (market value Apple jauh meninggalkan IBM dan Microsoft; dan hanya kalah dari raksasa minyak Exxon).

Namun Steve Jobs juga manusia. Ia kelak akan mati. Dan ia sadar itu, apalagi kini ia telah terserang penyakit kanker. Lalu, bagaimana nasib Apple sepeninggal sang maestro-nya? Apakah perusahaan itu akan tetap terus berdansa ketika sang dirigen telah tertidur lelap selamanya?

Pertanyaan itu acap hadir ketika sebuah perusahaan punya CEO atau leader yang melegenda. Kalau CEO-nya yang hebat telah pensiun atau too old, lalu apakah kinerja bisnis akan tetap cemerlang?

Steve Jobs mencoba menjawab pertanyaan itu dengan melaksanakan projek ambisius terakhirnya sebelum ia pensiun : yakni membangun Apple University.

Sejatinya upaya Apple membangun corporate university ini tergolong lambat. Banyak perusahaan global lain telah lama memilikinya, seperti GE, IBM dan juga Unilever. Steve Jobs sendiri selama ini lebih fokus pada inovasi pengembangan produk, serta “membajak dan meng-hire” personil-personil hebat dari luar Apple. Ia jarang melakukan upaya sistematis untuk mencetak dan mengembangkan future leaders Apple.

Namun kian tua, ia kian sadar. Apple harus hidup seribu tahun lagi, mesti ia kelak harus wafat. Misi suci Apple University cuman satu : bagaimana Apple bisa tetap seperti Apple, meski Steve Jobs telah mangkat. Begitulah, ia kemudian merekrut salah satu guru manajemen terbaik dari Harvard yang diberi tugas untuk membangun Apple University dan kemudian mewujudkan impiannya : terus melestrasikan kejayaan Apple melalui pengembangan SDM yang kredibel.

Konsep Corporate University atau Corporate Learning Center merupakan inisiatif yang kian penting untuk memastikan proses regenerasi leadership yang handal dan sistematis. Di tanah air, ada dua contoh organisasi yang bisa disebut telah berhasil menjalankan proses pendidikan dan regenerasi dengan amat bagus : yang satu Astra International, dan yang satunya TNI Angkatan Darat. Dua lembaga ini sama-sama memiliki track record yang cemerlang dalam mengkader, mendidik dan mengembangkan para calon pemimpin masa depan.

Inti dari corporate learning center memang sebuah upaya pendidikan dan pelatihan yang sistematis, berkelanjutan, dan selalu dikaitkan dengan proses pengembangan karir pegawai. Dengan itu, program pelatihan tidak bersifat parsial dan alakadarnya saja. Melainkan selalu diracik secara terpadu dan selalu dikaitkan dengan kebutuhan pengembangan future leaders demi mekarnya kinerja bisnis perusahaan.

Dalam corporate university ini biasanya dikembangkan kurikulum dan modul pendidikan yang berjenjang dan berkelanjutan (misal jenjang pendidikan basic management, middle management hingga level advance management untuk menyiapkan manajer-manajer senior levels). Kelulusan dari program pendidikan ini biasanya juga menjadi salah satu persayaratan para pegawai untuk bisa dipromosikan atau tidak.

Durasi program pendidikannya bisa berlangsung selama satu bulan penuh, dan juga di-selingi dengan penugasan di lapangan (jadi kombinasi antara in class room dengan project assignment dan presentasi). Beberapa perusahaan di tanah air bahkan melakukan kerjasama khusus dengan lembaga pendidikan seperti Sekolah Bisnis Prasetya Mulya atau bahkan Stanford University untuk menjalankan program pendidikan ini.

Konsep corporate university tampaknya merupakan sebuah kebutuhan yang tak terelakkan bagi banyak perusahaan. Kini mungkin saatnya bagi para pengelola SDM untuk melakukan diskusi serius dengan CEO atau pemilik perusahaan untuk memulai upaya pengembangan corporate university ini.

Para pengelola SDM jangan hanya terjebak melakukan rutinitas kegiatan pelatihan yang bersifat parsial dan bergaya hit and run (adakan pelatihan atau outbound, setelah itu tidak ada follow up yang sistematis dan terpadu).

Pengembangan SDM yang tangguh tidak bisa dilakukan dengan cara-cara kampungan semacam itu. Upaya ini harus dilakukan dengan komprehensif, cerdas dan berkelanjutan. Konsep corporate university merupakan salah satu solusi ampuh untuk hal itu.


sumber: http://strategimanajemen.net/2011/07/04/apple-university-dan-corporate-learning-center/#comment-9900

05 Mei 2011

Think Like an Entrepreneur

Salah satu pengusaha muda paling kaya di Indonesia Sandiaga Salahuddin Uno bercerita soal jatuh bangun membangun usaha dan pendapatnya mengenai peluang usaha yang masih terbuka di Indonesia. Ditemui Yahoo! Indonesia di kantornya di Jakarta Selatan, Sandiaga mengaku sempat mendapatkan cobaan yang membuatnya berpikir untuk menyerah.

*T: Apa kesibukan Anda sekarang?*

J: Aku fokus di Kadin, tapi tahun ini lebih banyak ke pengembangan bisnis. Banyak waktuku habis di Saratoga tapi di Recapital juga masih menduduki jabatan. Juga sebagai komisaris di beberapa anak usaha, ikut membantu tapi nggak *day to day*, hanya *big picture* dan *strategy*, dan memantau sebagai pemegang saham.


*T: Anda kan terpilih sebagai salah satu orang terkaya dan termuda di Indonesia versi majalah Forbes, bagaimana sih kisah suksesnya?*


J: Memulai usaha itu, hampir semua orang termasuk saya tak pernah terpikir bahwa 10 atau 14 tahun ke depan akan mencapai pencapaian seperti ini. Bagi saya bisnis itu adalah *survival mode*. Betul-betul terpaksa karena di-PHK. Ada krisis tahun 1997-1998 yang memaksa banyak perusahaan melakukan PHK dan saya salah satunya. Tapi itu ternyata membuka satu peluang di tengah-tengah krisis tersebut. Kalau dilihat potretnya sekarang memang sukses tapi ketika dilihat sejarahnya, banyak jatuh bangun. Ini yang saya alami, kesulitan membangun usaha sangat terasa dalam tahun-tahun pertama sampai tiga tahun pertama.

*T: Apa perubahan yang terbesar dari karyawan menjadi pengusaha?*

J: Sebagai pengusaha, kita harus mengubah paradigma dari seorang karyawan yang biasanya-- walaupun memberi yang terbaik-- pada akhir bulan sudah dijamin dengan segala tunjangan dan gaji yang bakal ada di rekening koran. Itu membentuk sifat karyawan yang tidak suka mengambil risiko. Seorang pengusaha jatuh bangun karena bisnis penuh risiko. Kami melihat bagaimana tanggung jawab membesarkan perusahaan dan menciptakan lapangan kerja itu tidak mudah.

Pada tahun-tahun pertama itu --Recapital maupun Saratoga-- saya mengalami susahnya menjalin usaha. Sulitnya mendapatkan kepercayaan dari klien dan investor. Ada suatu periode yang cukup lama, enam bulan kami sama sekali tidak mendapat *order*. Sampai terpikir apakah benar langkah kami menjadi pengusaha? Apakah memang mental kami lebih cocok jadi karyawan?

Tapi dengan kerja keras dan pantang menyerah, alhamdulillah. Itu nasihat orang tua selalu, ketika kita kerja keras tanpa pamrih dan ikhlas, rejeki yang akan menghampiri. Itu yang kami percaya terus.

Walaupun awalnya kami susah, jatuh bangun, hampir beberapa kali tak bisa bayar gaji pegawai. Kami jalani terus dan alhamdulillah sekarang sudah bisa membiayai 2 grup, Recapital dan Saratoga. Kami sekarang punya pondasi yang kuat dan bisa memberikan pekerjaan kepada 20 ribu karyawan.

*T: Apa titik balik dari saat jatuh bangun tersebut menjadi usaha yang pondasinya kuat?*


J: Titik baliknya saya rasa sekitar 4-5 tahun setelah mulai menapak jadi pengusaha. Saya melihat bahwa ternyata kalau kita berikan 100 persen dan *full comitment *terhadap usaha hasilnya akan baik. Para pelanggan, klien, nasabah maupun investor yang mempercayai kami untuk mengelola dana maupun perusahaan yang kami beri *advice* untuk melakukan restrukturisasi bisa memberikan kepercayaan.

Melihat sosok pengusaha muda, rupanya mereka tidak serta merta menilai pengusaha muda minim pengalaman. Ternyata mereka akan memberikan kepercayaan kalau pengusaha mudanya bisa menyerap begitu banyak pengalaman, bisa menghasilkan solusi dari permasalahan keuangan dan bisnis yang mereka hadapi.

*T: Apakah Anda sempat berpikir untuk menyerah?*

J: Tahun ketiga itu memang sempat terpikir untuk meneruskan atau mundur. Waktu itu sedang susah-susahnya melihat ada klien yang tak bayar tagihan, susah memotivasi karyawan. Ada seribu pertanyaan di kepala kami, teruskan atau mundur.

Di situlah keteguhan dan loyalitas entrepreneur diuji. Apakah dia loyal terhadap tujuan menjadi entrepreneur. Tujuan saya waktu itu adalah sukses dan memberi manfaat yang lebih untuk sekitar dengan menciptakan lapangan kerja. Kalau kita fokus dan loyal di tujuan kita, insya allah kita akan mendapatkan titik balik di tujuan tersebut.

*T: Saat Anda dipecat tahun 1997, apa ketakutan terbesar saat itu?**


J: Waktu itu saya baru punya keluarga. Saya berpikir bagaimana kasih makan anak saya. Anak saya waktu itu baru berumur beberapa bulan. Saya sudah dibiasakan selama 8 tahun bekerja dan menerima *income* rutin dan nggak pusing terhadap uang belanjaan. Tiba-tiba saya mendapati kenyataan ini. Dunia betul betul gelap, pekat. Seperti nggak ada solusi.Akhirnya saya
putuskan, *survival insting* saja, kembali ke Indonesia. Saya kembali ke rumah orang tua, karena rumah saya ludes. Harta saya habis dijaminkan ke bank untuk investasi di pasar saham. Waktu itu semua saham kan jebol.

Saya putus asa, tak percaya diri, teman-teman saya memandang saya lain. Di kultur kita kegagalan dianggap sebagai akhir dari segalanya. Padahal di dunia entrepreneur, kegagalan adalah akhir dari suatu *chapter* yang baru. * Chapter* yang akan dimulai adalah dimana seseorang bisa belajar dari kegagalan dan menjadikannya sebagai anak tangga menuju kesuksesan.

*T: Siapa yang paling berjasa dalam momen kebangkitan Anda?*

J: Keluarga pastinya. Momen kebangkitan ini kalau saya nggak punya istri dan orang tua yang memberi kesempatan dan memberi dukungan, doa. Saya beruntung ketemu teman SMA saya Rosan (Rosan Perkasa Roeslani, Direktur Utama PT Recapital Advisors) dan kami memulai Recapital. Saya juga beruntung dipertemukan lagi dengan pak Edwin Suryajaya yang sudah saya kenal 5 tahun sebelumnya. Kami mulai menata bisnis apa yang menurut saya akan bisa berkembang. Bisnis yang bukan hanya survival tapi juga usaha yang akan memberi penghidupan pada orang banyak. Saya selain berhutang budi kepada ibu saya juga pada pak William Suryajaya yang memberikan mentorship selama 2 tahun intensif, tentang bagaimana pengusaha tidak hanya mencari keuntungan tapi juga menjadi aset bangsa, saya belajar banyak soal itu.

*T: Apakah peluang industri ekstraktif di Indonesia masih terbuka?**


J: Masih terbuka luas, lihat saja kita nomor satu pengekspor batubara thermal di dunia, emas mungkin nomor dua. Kakao kita nomor dua, kelapa sawit nomor satu, tembaga juga sangat potensial. Semua sumber mineral penting yang akan dipakai oleh produk industri dapat ditemui di Indonesia, semua itu belum digarap. Jadi peluangnya masih terbuka lebar. Tapi saya ingin mengajak pengusaha yang bergerak di bidang sumber daya alam untuk melihat bagaimana meng-*capture* nilai tambahnya di Indonesia. Selain memberikan pajak lebih besar, tapi juga memberi yang lebih besar kepada rakyat.

*T: Kemiskinan di Indonesia masih tinggi, bagaimana cara mengatasinya?*


J: Kemiskinan hanya bisa disolusikan dengan memberdayakan rakyat yang masih *on the bottom of the pyramids*, mereka dengan pendapatan di bawah 2 dolar sehari. Bagaimana memberdayakan mereka? Dengan memberikan peluang. Bagaimana berikan peluang? Menurut saya masalah kelompok *bottom of the pyramids*adalah peluang. Kita harus bisa menghadirkan peluang dalam bentuk akses pada *microfinance*. Tiba-tiba teman-teman di *bottom of the pyramids* ini punya alat untuk menangkap peluang tersebut.

Makanya kita sebut sekarang lebih dari 42 juta unit usaha mikro kecil menegah yang telah lahir di Indonesia. 60 persen pendapatan domestik bruto disumbang UMKM, yang disebut *bottom* itu. Nah dengan memberi *microfinance*maka tiba-tiba hadir semua peluang pada mereka. Di situ adalah cikal bakal mereka melahirkan suatu usaha yang bisa mengangkat harkat martabat mereka dan menaikkan derajat mereka dari *bottom of the pyramids* ke kelas menengah.

*T: Kuncinya wiraswasta?*

J: Kuncinya entrepreneurship. dan ini saya sudah bicara di kampus, SMA-SMA. *Think like an entrepreneur.* memang nggak semua orang harus jadi entrepreneur, tapi berpikirlah sebagai seorang wirausaha untuk mengatasi berbagai masalah dalam keseharian kita. Bagaimana kita melihat peluang yang terus ada di balik setiap krisis. Bagaimana kita menghadapi hidup dengan penuh komitmen dan tak mudah putus asa. itu kan sifat-sifat dari seorang pengusaha.

Kalau punya kemampuan hadirkan pola pikir itu kepada akademisi, birokrat, pegawai pemerintah, pegawai swasta, maka akan terbentuk* culture *kewirausahaan, maka inovasi bangsa akan meningkat dan perekonomian pada ujungnya akan menghasilkan nilai* growth rate *yang lebih tinggi untuk bangsa tersebut. Indonesia hanya punya 0,18 persen populasi yang menjadi enterpreneur, kalau tak salah kurang dari 500 ribu. Tugas kita untuk pada 2020 mencetak setidaknya 5 juta entrepreneur yang sanggup mengisi pembangunan dan menciptakan lapangan kerja.

*T: Jika masyarakat sudah menjadi entrepreneur dan sejahtera, lalu di mana peran pemerintah?*

J: Pemerintah posisinya tak seperti zaman sebelum krisis, di mana ada keterbatasan sumber daya, keterbatasan dana. Tugas pemerintah adalah menghadirkan iklim dunia usaha yang paling kondusif di mana perizinan dipermudah, anak-anak muda yang punya ide dalam hitungan 3 hari dapat meregistrasi ide tersebut dan memulai usahanya atau mendirikan perusahaannya. Kalau mendirikan perusahaan sudah dibuat begitu mudah, juga bagaimana memberikan akses permodalan yang paling baik terhadap perusahaan-perusahaan ini.

Terakhir kemampuan pengusaha untuk berinovasi, bagaimana *human capacity*pengusaha ini. Kalau tiga aspek ini bisa diberikan, pemerintah tak perlu terlalu repot memberi budget besar pada setiap sektor usaha. Cukup diberi insentif, cukup diberi iklim yang sangat ramah terhadap kegiatan dunia usaha, akan tumbuh dengan sendirinya.

*T: Apa masalah terbesar pemerintah dalam memberi iklim yang kondusif buat dunia usaha?*

J: Pemerintah juga harus menyelesaikan masalah infrastruktur yang dihadapi karena indonesia adalah negara yang infrastrukturnya sangat lemah. Mengirim barang dari Surabaya ke Jakarta lebih mahal daripada dari Surabaya ke Hongkong, padahal jaraknya sangat berbeda. Tapi karena infrastruktur lemah ini menggerus daya saing dunia usaha. Saya yakin kalau pengusaha bahu membahu dan pemerintah maka ekonomi kita bisa tumbuh 8-10 persen dan indonesia bisa menjadi bukan hanya Macan Asia tapi juara dunia dan ada beberapa pandangan bahwa Indonesia akan jadi ekonomi terbesar di Asia tahun 2050

Sumber: http://id.berita.yahoo.com/think-like-an-entrepreneur.html

09 Februari 2008

FOLLOWERSHIP

Masih ingat kisah Asterix dan Obelix? Ya, mereka adalah dua ksatria dari Galia yang memiliki kekuatan dari ramuan ajaib dan senantiasa membuat pasukan Romawi kocar-kacir. Suatu ketika dikisahkan Asterix, Obelix, dan sang dukun Panoramix memasuki suatu daerah yang diduduki oleh sebuah pasukan musuh yang sangat kuat. Hitung punya hitung, tiga orang Galia ini bisa saja mengalahkan seluruh pasukan tersebut dengan bantuan ramuan ajaib, namun karena sifat dari ramuan ajaib ini temporer, mereka khawatir akan kehabisan ramuan ajaib itu sebelum mereka bisa membereskan seluruh prajurit yang ada.

Akhirnya Panoramix menawarkan sebuah ide cemerlang. Daripada memberikan ramuan ajaib kepada Asterix dan dirinya (Obelix tidak pernah diberi ramuan ajaib karena pernah terjatuh ke panci berisi ramuan itu pada saat masih bayi), Panoramix justru bermaksud memberikan ramuan tersebut kepada beberapa pengawal musuh. Mengapa? Di sinilah cerdiknya Panoramix. Segera setelah meminum ramuan ajaib Panoramix, para pengawal tersebut merasa bahwa mereka bisa mengalahkan seluruh pasukan yang ada dan mendapatkan kekuasaan mutlak atas pasukan tersebut. Namun karena ada beberapa orang pengawal yang memiliki khasiat dari ramuan ajaib tersebut, maka terbentuklah kelompok-kelompok yang masing-masing mendukung salah satu dari pengawal yang sudah meminum ramuan ajaib tadi. Selanjutnya, mudah ditebak. Seluruh pasukan tersebut saling berebut kekuasaan sehingga akhirnya tercerai-berai dan kocar-kacir dengan sendirinya. Asterix, Obelix dan Panoramix pun berhasil meloloskan diri dengan mudah.

Kisah di atas memang menggelikan, namun sesungguhnya menyampaikan pesan yang sangat mendalam mengenai pentingnya followership atau kemampuan untuk menjadi pengikut. Topik mengenai followership sangat jarang dibahas dibandingkan leadership. Anda bisa dengan mudah mencari buku tentang leadership, namun akan kesulitan menemukan buku tentang followership. Demikian pula sangat banyak pelatihan dan seminar mengenai leadership tapi hampir tidak ada pelatihan atau seminar mengenai followership. Alasannya cukup jelas, kebanyakan orang ingin menjadi pemimpin seperti para pengawal tadi. Hanya saja ramuan ajaib yang digunakan bukanlah ramuan ajaib buatan Panoramix yang bila diminum langsung membuat tubuh kuat. Ramuan ajaib yang digunakan kita sekarang adalah kapabilitas yang kita bangun baik melalui pendidikan, pelatihan, networking dan kapital ataupun modal. Sebaliknya, menjadi seorang pengikut tidak membutuhkan ramuan ajaib.

Setiap orang bisa menjadi pengikut yang baik..., begitulah kira-kira mitos yang berkembang selama ini. Namun seperti mitos pada umumnya, pemahaman demikian tidaklah selalu benar adanya. Mengapa dibutuhkan sebuah keahlian untuk menjadi pengikut? Sebuah paradoks bukan? Seseorang menjadi pengikut, karena orang tersebut tidak memiliki kemampuan untuk memimpin. Begitulah kira-kira penjelasan logis dari pernyataan di atas. Hmm, menurut hemat saya, pendapat tersebut tidak sepenuhnya tepat. Mungkin benar bahwa menjadi follower tidak lebih sulit dibandingkan menjadi leader, namun agar seseorang bisa menjadi leader, maka ia membutuhkan follower bukan? Bahkan pada kenyataannya, seorang leader yang baik sesungguhnya juga merupakan seorang follower yang baik.

Alexander Agung belajar dengan tekun dan menjadi follower yang baik kepada gurunya Aristoteles; Pandit J. Nehru, salah satu perdana menteri terbaik yang pernah dimiliki India, merupakan follower setia Mahatma Gandhi. Mungkin anda bertanya-tanya, bila seseorang terus-menerus menjadi pengikut bagaimana ia bisa memiliki kemampuan untuk memimpin? Di sinilah perlunya kita memahami followership dengan benar.

Seorang follower yang baik bukan hanya mengikuti pemimpinnya seperti kerbau dicocok hidung, melainkan ia memahami, menghayati dan menjiwai visi dari sang pemimpin tersebut. Ia mempelajari semua karakter dan kapabilitas yang dimiliki oleh sang leader sehingga ia sebenarnya sedang berada di dalam gemblengan sang leader seperti halnya Gatotkaca berada di kawah Chandradimuka. Pada saat yang tepat, sang follower akan meneruskan tongkat kepemimpinan dari sang leader dan bila saat itu tiba, maka sang follower sudah sangat siap untuk menggantikan leader-nya.

Followership merupakan tahapan yang sangat penting dalam proses pembentukan pemimpin masa depan. Para Jenderal menjadi ajudan pendahulunya sebelum akhirnya ia menjadi Jenderal sesungguhnya. Tentu saja calon Jenderal tersebut tidak akan dipromosikan menjadi Jenderal bila pada masa-masa ia menjadi ajudan tidak menjadi follower yang baik melainkan seorang pembangkang sejati. Pasti Jenderal atasannya sudah menghukum bahkan memecat ajudan calon Jenderal tersebut.

Di perusahaan-perusahaan Jepang, followership merupakan tradisi. Seorang Direktur akan ditugaskan menjadi ajudan Direktur pendahulunya. Calon Direktur tersebut akan ikut dalam semua pertemuan sang Direktur bahkan untuk pertemuan empat mata sekalipun. Hal ini sangat kontras dengan kenyataan bahwa banyak petinggi perusahaan dan pemerintahan di negara kita yang bahkan tidak tahu apa visi dan program kerja yang ditinggalkan oleh pendahulunya sehingga begitu ia menjabat, hal pertama yang dipikirkannya adalah membuat visi dan program baru. Bahkan beberapa perusahaan-perusahaan modern telah menerapkan follwership ini untuk mencetak para pemimpin dan Chief Executive Officer (CEO) yang hebat.

Mc Donald mengharuskan para pembeli franchise-nya untuk magang dan bekerja mulai dari sebagai petugas cleaning service, padahal orang tersebut adalah pengusaha yang memiliki modal miliaran rupiah untuk membeli sebuah franchise Mc Donald. Contoh yang paling fenomenal barangkali Jack Welch, mantan CEO General Electric yang pernah dinobatkan sebagai executive nomor satu dunia tersebut memulai karirnya untuk menjadi CEO dengan menjadi apprentice selama enam tahun dari CEO sebelumnya yaitu Reg Jones.

Baiklah, mungkin para pembaca masih bertanya-tanya, bagaimana dengan para pemimpin yang benar-benar harus menjadi pelopor sejak dari awal? Bagaimana dengn Gandhi, Walt Disney atau Sidharta Gautama yang tidak memiliki pendahulu? Sesungguhnya mereka tetap pernah menjadi follower. Hanya saja dalam kasus pemimpin perintis seperti mereka yang menjadi 'pembimbing' yang harus mereka ikuti bukanlah manusia, melainkan sesuatu yang lain. Untuk Gandhi yang menjadi pembimbingnya adalah tekadnya yang kokoh untuk membawa India merdeka (di samping buku dan kitab yang dipelajarinya). Untuk Walt Disney, yang menjadi pembimbingnya adalah impiannya yang kuat untuk melihat anak-anak yang bahagia. Dan untuk Sidharta Gautama, kegalauannya akan kepincangan yang ada di dalam masyarakat di sekitarnya telah menuntunnya untuk mendapatkan enlightenment atau pencerahan.

Apakah Anda bercita-cita untuk menjadi seorang pemimpin hebat suatu saat nanti? Siapkanlah diri Anda dari sekarang. Pastikan Anda menjadi seorang follower yang tulus. Suatu saat, akan tiba waktunya bagi Anda untuk menampilkan diri Anda sebagai seorang true leader. Pada saat itu Anda telah benar-benar siap karena sebelumnya Anda pernah menjadi seorang genuine follower.

(Sebuah perenungan bersumber dari: Lionmag Edisi Desember 2007, ditulis oleh Jemy V. Confido)