02 April 2008

Otto Sumarwoto in Memoriam

Indonesia Kembali kehilangan pendekar Lingkungan. Seorang putra bangsa yang dalam hidupnya selalu berusaha berjuang untuk menyelamatkan kondisi Lingkungan hidup Indonesia yang saat ini perlahan-lahan berjalan menuju ke titik kehancurannya...

Selama Jalan Otto Sumamarwoto Sang Pendekar Lingkungan semoga seluruh pengorbanan dan perjuangan untuk Lingkungan Hidup Indonesia di terima disisisi-Nya dan semoga Ilmu yang di tinggalkannya akan bermanfaat bagi perjuangan generasi selanjutnya dalam menjaga dan memertahankan kelestarian Lingkungan Hidup Indonesia......

......

Otto Soemarwoto menyelesaikan pendidikan Sekolah
Rakyat (Sekolah Dasar) di Temanggung (1941) dan MULO
di Yogyakarta (1944). Anak keenam dari 13 bersaudara
pegawai DPU zaman Belanda, yang bercita-cita jadi ahli
pertanian, ini sempat nyasar menjadi pelaut, hanya
karena senang melihat kaapal. Dia memasuki Sekolah
Tinggi Pelayaran di Cilacap (1944). Lalu dia sempat
menjadi Mualim Kapal Kayu (1944-1945).

Namun cita-citanya menjadi ahli pertanian tak pernah
padam. Maka selepas menamatkan SMA di Yogyakarta
(1947), dia mendaftar di Fakultas Pertanian Klaten.
Namun, tiba-tiba, Belanda datang menyerbu, Otto
bergabung ke TRIP (1948-1949). Setelah situasi tenang,
tahun 1949 dia kuliah di Fakultas Pertanian UGM, dan
lulus dengan cum laude (1954). Kemudian dia pun sempat
mengajar di almamaternya. Sebelumnya, 1952, dia sudah
menjadi Asisten Botani Fakultas Pertanian UGM.

Setelah lulus sebagai insinyur pertanian dari UGM, dia
menjabat Asisten Ahli FP UGM (1955). Kemudian setelah
meraih gelar Doktor filosofi tanaman (Plant
Physiology) dari Universitas California, Berkeley, AS
dengan disertasi: "The Relation of High Energy
Phospate to Ion Absorption by Excised Barley Roots"
(1960), dia pulang ke tanah air, kembali ke UGM. Kala
itu, dalam usia relatif muda, 34 tahun, dia diangkat
menjadi guru besar (termuda) di UGM. Dia Guru Besar
Ilmu Bercocok Tanam, Fakultas Pertanian & Kehutanan
UGM (sejak 1960).

Saat kuliah di Universitas California, Berkeley, AS,
itu pula, Otto berkenalan dengan Idjah Natadipradja
yang kemudian dinikahinya tahun 1956 dan dan
dikaruniai tiga anak.

Perihal nama depannya, Otto, juga muncul ketika dia
kuliah di Amerika. Kala itu banyak orang bertanya
mengapa dia hanya punya nama keluarga, Soemarwoto.
Akhirnya, daripada repot-repot menjelaskan ditambahlah
namanya menjadi Otto Soemarwoto.

Namun setelah pulang ke Bandung, dengan memakai nama
Otto itu, banyak orang menyangka dia orang Sunda.
Walaupun bagi Otto, kesukuan adalah cerita lama. Namun
dia selalu merasa beruntung beristerikan Idjah
Natadipraja, puteri Sunda. Paduan Jawa-Sunda membuat
meja makan nyaris selalu lengkap dengan tahu tempe dan
sayuran.

Setelah beberapa tahun mengajar di UGM, kemudian, Otto
dipercaya menjadi Direktur Lembaga Biologi Nasional
(LBN) di Bogor (1964-1972). Di sini dia mendalami
biologi, terutama biologi molekuler -- bidang yang
memerlukan peralatan rumit dan mahal. Saat mendalami
biologi ini, dia makin tertarik pada ekologi
lingkungan, kendati masih terbatas pada ekologi
tumbuh-tumbuhan.

Pada saat bersamaan, dia juga menjabat Direktur SEAMEO
(South East Asia Ministers of Education Organization)
dan Biotrop Bogor (1968-1972). Lalu, sejak 1972, dia
aktif sebagai Guru Besar Tata Guna Biologi Unpad.
Selain itu, dia juga menjabat Direktur Lembaga Ekologi
Unpad (1972).

Lembaga ini didirikannya sejak 23 September 1972
dengan berbagai keterbatasannya, baik anggaran maupun
tenaga. Semula, hanya dikelola tiga orang, termasuk
Idjah Natadipradja, isterinya sendiri. Peralatan pun
hanya pensil, kertas, dan mistar. Sampai akhirnya
menjadi Lembaga Ekologi yang patut dibanggakan oleh
Unpad. Lembaga ini begitu populer dengan banyaknya
masalah yang diolah, serta banyak cerita yang
dipublikasikan.

Lembaga Ekologi Unpad ini kemudia berubah nama menjadi
Pusat Penelitian Sumber Daya Alam dan Lingkungan
(PPSDAL). Otto juga menjabat sebagai kepala. Dia
mengabdi di lembaga penelitian itu lebih dari 20
tahun. Lembaga ini bahkan sempat sebagai salah satu
pelaksanaan resolusi Konferensi Stockolm.

Sejak memimpin lembaga itu, Otto dikenal sebagai
seorang ahli yang sering melontarkan pernyataan
kontroversial. Sampai-sampai dia diumpamakan sebagai
tokoh wayang, Bratasena. Salah satu contoh, ketika
kemacetan kawasan Puncak, Bogor, diributkan, dengan
santainya ia mengatakan,"Biar saja Puncak macet, tidak
usah dibenahi. Lama-lama orang kan bosan ke sana."

Selain itu, pada 1993, diluar dugaan banyak temannya,
Otto bergabung dengan Business Council for Sustainable
Development yang diketuai Bob Hasan, tokoh bisnis yang
dikenal kontroversial dan sangat dekat dengan penguasa
Orde Baru. Otto sadar bisa dituduh jual diri dengan
menerima jabatan direktur eksekutif di lembaga yang
melibatkan Bob Hasan itu.

Tapi, Otto punya alasan, bukanlah soal ekonomi. Saat
itu, ia melihat ada usaha dari pengusaha ke arah yang
baik. Masalah lingkungan juga menciptakan bisnis baru,
seperti teknologi pengolahan limbah, teknologi
pengurangan asap dan bau.

Pada 1980, Otto juga berkesempatan sebagai Guru Besar
Tamu di Universitas California, Berkeley, AS. Selain
itu, Otto juga aktif sebagai anggota Board of
Directors, International Institute for Environment and
Development, New York dan London (1971-1978). Juga
anggota Executive Board, International Union for
Conservation of Nature and Natural Resources, Swiss
(1972-1976) dan anggota Dewan Redaksi Journal of
Environmental Conservation Zurich, Swiss. Anggota
Dewan Redaksi Journal of Agriculture and Environment,
Den Haag, Nederland (1974) dan anggota Commission on
Ecology, Swiss (1980).

Ketika pensiun 1 Maret 1999, dengan jabatan terakhir
Kepala Pusat Penelitian Sumber Daya Alam dan
Lingkungan (PPSDAL) Unpad, Otto mewariskan delapan
doktor dan sejumlah master. Dia digantikan oleh Dr
Nani Djuangsih.

Saat pensiun itu, Otto menerima "hadiah mewah" dari
rekan-rekannya berupa seminar besar yang dihadiri 400
undangan. Sampai-sampai Menteri Lingkungan Hidup kala
itu, Emil Salim berujar: "Saya kagum dengan cara
pensiun Pak Otto, yang dilengkapi seminar, diberitakan
di koran. Ini bukti bahwa Otto tidak sendirian dalam
mengembangkan karir dan ilmunya."

Kepakarannya tentang lingkungan tidak hanya diakui di
dalam negeri, tetapi juga di luar negeri. Tertbukti,
1993, Otto memperoleh gelar doktor honoris causa dari
Wageningen Agricultural University, Belanda, karena
dinilai berjasa mengembangkan konsep pekarangan dan
pemikiran tentang kaitan hutan dan lingkungan.

Kala itu, Otto mengingatkan pemilik hutan tropik dan
nontropik, bahwa penyusutan hutan tropik hanya 0,5
juta kilometer persegi, sedangkan hutan nontropik
sudah menyusut 6,5 juta kilometer persegi.

Setelah pensiun, bukannya Otto berhenti dari aktivitas
keilmuannya. Ia terus mengajar di Unpad, UI dan UGM,
pembicara di berbagai seminar dan diskusi. Bahkan pada
perayaan ulang tahun kelahirannya yang ke-80, Otto
didaulat menyampaikan ceramah umum yang dihadiri
sejumlah tokoh dan sivitas akademika Universitas
Padjajaran.

Bahkan setelah pensiun , Otto masih saja rajin membaca
dan menulis. Karya tulisnya yang terakhir adalah Atur
Diri Sendiri: Paradigma Baru Pengelolaan Lingkungan
Hidup, Yogyakarta, UGM Press (2001).

Sebelumnya, dia telah meluncurkan berbagai buku dan
karya tulis, di antaranya: The Alang-Alang Problem in
Indonesia, paper, the Tenth Pacific Science Congress,
Honolulu, AS, 1961; Problems of High School Biology
Teaching in Indonesia, Kadarsan Sampoerno & O.
Soemarwoto, IUCN Publications, 1968; Ecological
Aspects of Development, Elsevier Publishing Co.,
Amsterdam; Prinsip Sistim Penafsiran Pengaruh
Lingkungan, Bandung, Lembaga Ekologi Unpad (1974);
Environmental Education and Research in Indonesian
Universities, Singapore, Maruzen Asia; Jaring-Jaring
Kehidupan Mengenai Amdal, Indrapress, 1981; Ekologi
Lingkungan Hidup dan Pembangunan, Jakarta, Djambatan
(1983); dan Indonesia dalam Kancah Isu Lingkungan
Global, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama (1991).

Atas berbagai pengabdiannya, Otto telah menerima
Bintang Mahaputra Utama (1981), Satyalencana Kelas I
(1982), dan Order of the Golden Ark dari Negeri
Belanda.

HUT Ke-80
Dalam rangka HUT ke-80 Prof. (Em) Otto Soemarwoto,
PhD, Unpad mendaulatnya memberikan ceramah umum
bertema: “Pembangunan Berkelanjutan : Antara Konsep
dan Realita” di Aula Unpad, Bandung , 20 Februari
2006 pkl. 10.00 WIB.

Undangan yang hadir, antara lain Ir. Rachmat Witoelar,
Menteri Negara Lingkungan Hidup RI beserta Ibu Erna
Witoelar (Duta Besar Khusus PBB untuk Millenium
Development Goals/Kawasan Aisa Pasifik) dan para
Deputi di Lingkungan Kementerian Negara Lingkungan
Hidup. Juga hadir Walikota Bandung dan Walikota
Cimahi, para Pimpinan Universitas, Fakultas dan
Lembaga Unpad, para Anggota Dewan Penyantun dan para
Guru Besar Unpad, serta para Pimpinan dan Peneliti
Lembaga Ekologi/PPSDAL Unpad.

Rektor Unpad Prof. H. A. Himendra Wargahadibrata, atas
nama civitas akademika Unpad, dalam pidato sambutannya
mengatakan peringatan HUT yang diisi dengan ceramah
umum bagi para tokoh yang berjasa bagi pengembangan
ilmu pengetahuan, merupakan apresiasi sebagai
penghormatan atas jasa/pengabdian para tokoh yang
mudah-mudahan dapat menjadi suri tauladan bagi kita
semua.

Rektor Unpad mengatakan bahwa Prof. Otto telah dikenal
sebagai tokoh nasional dan internasional dibidang
lingkungan hidup. Banyak karya dan buah pemikiran
Prof. Otto yang telah disumbangkan baik untuk
kepentingan Unpad maupun nasional. Di Unpad,
khususnya, beliau adalah perintis/pendiri Lembaga
Ekologi Unpad yang kini menjadi Pusat penelitian
Sumber Daya Alam dan Lingkungan (PPSDAL) yaitu lembaga
pertama di lingkungan pendidikan tinggi di Indonesia
yang memfokuskan diri pada isu-isu lingkungan hidup.

Prof. Otto merupakan tokoh yang melahirkan Pola Ilmiah
Pokok Unpad yaitu Bina Mulia Hukum dan Lingkungan
Hidup. Hingga saat ini maupun masa yang akan datang
PIP Unpad dipandang masih relevan dalam mendorong
kemajuan Unpad dalam mendukung pembangunan nasional.

Bidang Ilmu Lingkungan Hidup harus terus dikembangkan
dan dilanjutkan oleh para penerusnya. Saya melihat,
pendekatan Multidisclipinary Sciences berbasis ilmu
Lingkungan Hidup harus dikembangkan, seperti :
Komunikasi Lingkungan, Psikologi Lingkungan dan aspek
keilmuan lainnya.

Salah satu yang menonjol serta telah menjadi isu
internasional dalam persoalan lingkungan hidup yang
berhubungan dengan bidang ilmu lainnya baik Ilmu
Sosial maupun Ilmu-ilmu Eksakta adalah masalah
Development of Traditional & Indigenous Knowledge dan
Education for Sustainable Development. Permasalahan
ini selayaknya terus diperhatikan secara cermat untuk
dikaji dan dikembangkan lebih dalam khususnya oleh
Lembaga Ekologi/PPSDAL Unpad.

Hal tersebut merupakan bagian penting dalam memenuhi
tuntutan persoalan yang terus berkembang di
tengah-tengah masyarakat. Sebagai insan akademik kita
turut memberikan kontribusi bagi bangsa dan masyarakat
sesuai spirit dan nilai-nilai Tri Dharma Perguruan
tinggi.

Ceramah Umum yang disampaikan oleh Prof. Otto, kata
Himendra, merupakan bukti bahwa diusianya yang telah
lanjut, beliau tetap produktif dan tetap mempunyai
semangat tinggi untuk menyumbangkan pemikirannya bagi
kita semua.
Masalah Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable
Development) yang diangkat pada Ceramah Umum ini
merupakan tema yang sangat menarik untuk dibahas,
mengingat kompleksitas permasalahannya ditengah-tengah
krisis bangsa yang multidimensi. Pembangunan
berkelanjutan harus dihadapi dan disikapi secara arif
dan bijaksana, konsisten, menjunjung tinggi aspek
hukum, sosial, dan kemanusiaan, serta melibatkan semua
elemen pembangunan secara holistik/integratif.


Dikutip dari milis lingkungan@yahoogroups.com yang dikirim oleh Djuni Pristiyanto

26 Maret 2008

Hutan Sebagai "Jatidiri"

Di dalam rimba ilmu di timba
Ilmu diri dan tahu diri
Ilmu alam semula jadi
Ilmu tempat berkaca diri

Alam besar kita perkecil
Alam kecil kita habisi
Tinggal alam dalam diri
Bagaikan pohon Enak Alam
Pohon putih Padang Gelebu
Pohon pembawa undang-undang
Pohon pembawa sunnah nabi
Pohon bertunggu dengan "Akuan"
Pertama akuan Burung Putih warna Beralih
Kedua bernama Akuan Sidi
Ketiga bernama Akuan Sakti

Bertempat-tempat letak diamnya
Bertampat-tempat letak kuasanya
Bagaikan kayu Endak Endang
Kayu Alam semula jadi

Kayu menjadi batang tubuh
Batang tubuh anak cucu Adam
Sejak Alam mula jadi
Di Bumi selebar dulang
Di Langit sekebang payung
di Tanah sekepal mula jadi
Di situlah alamat tegal
Di situ asal bermula
Di situ manusia diam

Alam menyatu dengan tubuh
Tubuh menyatu dengan alam
Rusak alam binasa tubuh
Rusak tubuhu binasa alam

Menyatu tidak berbelah bagi
Jatuhnya tidak berantara

Dekatnya tidak berjarak
Di dalamnya pohon berdiri
Di dalamnya tubuh berdiri
Cukup lengkap dengan adatnya
Cukup lengkap dengan undangannya

Karena, Lahir pantang larang
Pantang merusak menebas hutan
Pantang merusak suak dan sungai
Pantang merusak tokong dan pulau
Pantang merusak tasik dan pulau
Pantang merusak kayu dan kayan
Pantang merusak hewan di rimba

Yang merayap biar merayap
Yang melata biar melata
Yang bersayap biarlah terbang
Yang menaruk biar menaruk
Yang di air biar berenang
Yang di darat biar melata
Yang di awang-awang biarlah terbang

Supaya kekal alam semua
Supaya tidak tumbuh bala bencana
Supaya alam tidak padam
Supaya gelap tidak kan melap
Supaya terang jadi benderang
Supaya hidup berkepanjangan
Supaya mati berkasih sayang
Supaya anak cucu merasa senang
Supaya dunia kekal berkembang
..................................................dst

Tenas Effendy 1986

25 Februari 2008

Hutan Sebagai Sandaran Hidup

Mencari makan ke hutan
Mencari nafkah ke rimba

Hutan dijaga beradat lembaga
Hutan dikawal berasal usul
Hutan menjadi sandaran hidup
Hidup berumah pelepas susah
Hidup berkampung tempat bertundung
Hidup berbanjar tempat bersandar
Hidup bernegeri tempat mencari

Hutan tempat orang bertumpu
Hutan tempar menebus malu
Hutan tempat ramu meramu
Hutan tempat buru berburu
Hutan dijaga hilir dan hulu

Dikundungkan dengan aib dan malu
Seiya sekata sejak dahulu

Tenas Effendy

20 Februari 2008

Hutan Sebagai Simbol Kepemimpinan

Kalau hendak tahu sifat pemimpin
Tengok-tengok kayu di rimba
Kayu besar berkayu kecil
Kayu kecil beranak laras

Kayu besar berdaun rimbun
Tempat berteduh segala makhluk
Kayu besar berdahan kukuh
Tempat bergantung segala makhluk
Kayu besar berbatang besar
Tempat bersandar segala makhluk
Kayu besar berakar kuat
Tempat bersila segala makhluk
Kayu besar bercabang-cabang
Dari cabang keluar ranting
Dari ranting keluar kuntum
Dari kuntum keluar bunga
Dari bunga keluar putik
Yang putik menjadi buah
Buah berguna bagi semua makhluk


Tenas Effendy

18 Februari 2008

Hutan Sebagai Contoh Teladan

"Kalau hendak tahu ragam manusia
Tilik dan simak kayu di rimba

Ada yang lurus ada yang bengkok
Ada yang condong ada yang tegak
Ada berbongkol ada yang licin
Ada yang berduri ada yang tidak
Ada yang gatal ada yang miang
Ada yang hidup tindih menindih
Ada yang hidup pilin berpilin
Ada yang hidup belit membelit
Ada yang hidup himpit menghimpit
Ada yang hidup jalar menjalar
Ada yang hidup tumpang menumpang
Ada yang hidup menumpang sampai mati
Ada yang hidup melati tanah
Ada yang hidup menjadi pucuk

Demikian laku manusia
Dari dahulu sampai sekarang

(Tenas Effendy)

14 Februari 2008

Hutan

"yang disebut hutan rimba
hutan lebat asal muasal
hutan lebat semula jadi
hutan tumbuh tidak ditanam
hutan besar dengan pelihara
hutan lebat berpagar adat
hutan disebut rimba gana
hutan disebut rimba lebat
hutan disebut rimba raya
hutan disebut belantara

di sanalah hak didirikan
di sanalah adat ditegakkan
di sanalah undang dibesarkan
di sanalah pantang laranga dipaksakan"

Rimba tidak boleh rusak binasa
Hutan tidak boleh dianiaya
Hutan tidak boleh dibiga-biga

(Tenas Effendy, Pekanbaru 1986)